WartaJuara.com – Pemprov Kaltim memiliki ide membangun jalan di pinggir Sungai Mahakam sepanjang 3 kilometer. Lokasinya berada di Kawasan Selili dan terkoneksi dengan Jembatan Mahkota II Samarinda. Jika terealisasi, jalan ini jadi salah satu jalan pintas menuju pintu tol Samarinda – Balikpapan juga.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang dan Perumahan Rakyat (PUPR-Pera) Kaltim, Aji Firnanda, mengungkap ide tersebut masih awal dan mentah. Tetapi pemprov dipastikan tetap serius untuk merealisasikan rencana tersebut. Apalagi tinjauan awal ke lapangan sudah dilakukan pada awal Maret lalu. “Kami sudah menelusuri dari Selili hingga ke Jembatan Mahkota II dan melihat kemungkinan rencana tersebut bisa berjalan,” ujar Firnanda, belum lama ini.
Untuk itu, lanjutnya, Pemprov Kaltim akan menyiapkan dokumen studi kelayakan terhadap rencana itu. Melihat kelayakan teknis hingga sosiologis pembangunan tersebut. Dokumen itu pula yang akan memberi gambaran teknis bagaimana proyek tersebut akan berjalan. “Kami upayakan di APBD Perubahan ini untuk siapkan Feasibility Study atau studi kelayakan proyek. Agar bisa dipastikan peluang rencana tersebut terealisasi,” paparnya.
Lantaran sejauh ini, ia belum bisa memastikan bagaimana rancangan teknis jalan tepi sungai tersebut. Mulai dari jarak ketinggian jalan dari air, lebar dan jenis kelas jalan yang disiapkan. Begitu pula dengan menyiapkan fasilitas ruang terbuka bagi masyarakat di sekitar jalan tersebut. “Makanya semua itu akan terlihat lewat feasibility study itu. Begitu juga besaran anggaran yang dibutuhkan,” sebutnya.
Kendati demikian, ia menargetkan pekerjaan secepatnya bisa berjalan di 2027 mendatang. Perkiraannya, tahun ini menuntaskan dokumen kelayakan, tahun 2026 berupaya permasalahan sosial bisa kelar. Baru pembangunan fisik berjalan di tahun berikutnya. “Itu jika berjalan sesuai rencana. Kami juga perlu berkoordinasi dengan Pemkot Samarinda terkait rencana ini, serta melihat kemampuan keuangan daerah,” tutur Firnanda lagi.
Keuntungan lain terkait rencana pembangunan jalan tersebut juga bisa menjadi waterfont sekaligus ikon Kota Samarinda. Karena rencana juga akan dibuka ruang terbuka dengan berbagai fasilitas untuk aktivitas warga nantinya. Sehingga juga mendorong sektor ekonomi dan pariwisata bagi warga di sekitar kawasan. “Apalagi di sana ada industri pengolahan tempe dan tahu. Jika ditata ulang mungkin bisa jadi nilai tambah bagi kawasan tersebut,” tandasnya.
Namun sekali lagi ia menekankan, jika ide tersebut sejauh ini masih sebatas rencana. Ada kemungkinan berubah atau ada aspek lain yang bisa membuat wacana ini tertunda lainnya. Tetapi tetap ini jadi salah satu proyek fisik yang disiapkan Pemprov Kaltim. (bct)

