WartaJuara.com – Gerakan Aksi Kamisan Kaltim sudah berjalan 8 tahun di Bumi Etam. Berbagai tema keluhan warga terus disuarakan gerakan tersebut. Pada perayaan kali ini mereka mengangkat tema kemanusiaan di atas segala.
Penekanan utama dalam ungkapan tersebut adalah nilai-nilai seperti kasih sayang, empati, dan solidaritas harus jadi prioritas. Termasuk pula dalam hubungan antara negara dan warganya yang biasanya menjadi bentuk kebijakan dan tindakan publik. Semuanya diungkapan dalam aksi yang digelar di Taman Samarendah, depan Kantor Gubenur Kaltim pada Kamis, 7 Agustus 2025 sore.
Tokoh Aksi Kamisan, Sumarsih, turut hadir ke Samarinda untuk merayakan sewindu Aksi Kamisan Kaltim. Ia cukup senang dengan apa yang dilakukan Aksi Kamisan Kaltim. Sebab begitu konsisten dan terus menyuarakan ketidakadilan di Kaltim. “Aksi Kamisan Kaltim menginspirasi anak muda untuk berpikir kritis. Itu sangat bagus,” ujar Sumarsih.
Sedikit informasi, Sumarsih menjadi simbol orang tua dari anak yang jadi korban pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM). Ia terus bersuara dengan meminta kepastian hukum terkait anaknya yang meninggal dari tragedi 1998. Baginya, keadilan bukan hanya hak pribadi, melainkan hak seluruh rakyat yang pernah menjadi korban pelanggaran HAM.
Aksi yang ia jalankan tidak berbicara dengan kemarahan yang meledak-ledak. Melainkan dengan keteguhan dan air mata yang menyuarakan penderitaan banyak keluarga korban. Jika menilik apa yang terjadi di Kaltim, ia merasa aksi yang dilakukannya di Jakarta jadi tidak sia-sia. “Ya ini menular. Kami merasa bisa memberi inspirasi. Apalagi yang menjalankan di Kaltim adalah anak-anak muda,” tuturnya.
Pada perayaan tersebut, juga hadir Suciwati, istri mendiang aktivis HAM Munir Said Thalib. Ia menyebut situasi HAM di Indonesia saat ini sudah terdegradasi. Kekuasaan juga makin represif terhadap rakyat.
“Semakin hari rakyat dikuras habis sumber dayanya, dan siapa pun yang melawan akan dihabisi. Ini bentuk kejahatan yang semakin brutal dan semena-mena,” lanjutnya.
Meski demikian, ia tetap melihat harapan dalam gerakan perlawanan anak muda. Suciwati mengingatkan kembali semangat perjuangan 32 tahun lalu ketika berbagai bentuk perlawanan tumbuh di bawah tekanan.
“Dulu banyak perlawanan muncul, anak muda merebut ruang dan menolak ketidakadilan. Itu bentuk perlawanan yang indah. Sekarang perlawanan hadir dalam bentuk lain lagu, bendera, karya. Itu tetap perjuangan,” tegasnya. (bct)

