WartaJuara.com – Konstelasi politik di Kalimantan Timur (Kaltim) kian memanas selama masa kampanye pemilihan gubernur (pilgub). Salah satu fenomena menarik adalah pergeseran dukungan relawan, yang kerap berpindah haluan di antara dua kubu kandidat. Relawan dianggap efektif dengan biaya rendah, sehingga menjadi daya tarik bagi pasangan calon (paslon).
Lutfi Wahyudi, akademisi dari Universitas Mulawarman, melihat tren ini sebagai strategi yang berkembang dalam beberapa tahun terakhir. Menurutnya, relawan kerap menjadi mesin politik yang lebih dominan daripada partai pengusung. “Menggunakan partai sebagai mesin politik memang lebih mahal, jadi wajar kalau banyak yang beralih ke relawan,” ujarnya melalui sambungan telepon.

Lutfi menambahkan, kinerja relawan dinilai lebih efisien karena berbasis individu masyarakat. Ini membuat mereka lebih fleksibel dalam bekerja di lapangan. Relawan, yang tidak terikat pada identitas partai politik, lebih mudah diterima publik saat berkampanye. “Membawa bendera partai kadang ditolak masyarakat, apalagi jika mereka tidak suka dengan partai tertentu,” jelasnya.
Lebih lanjut, Lutfi menjelaskan bahwa berkampanye dengan partai memiliki aturan dan mekanisme yang ketat. Sementara, relawan bisa bergerak lebih cepat dan fleksibel. “Mereka bisa kampanye sambil nongkrong atau saat ada acara warga. Jadi, lebih mudah menyusup di masyarakat,” ungkap pengajar Ilmu Politik ini.
Keleluasaan inilah yang membuat relawan menjadi pilihan utama bagi paslon. Selain lebih murah, mereka juga dianggap lebih efektif dalam memastikan dukungan di lapangan. “Dengan pendataan yang baik, relawan bisa lebih pasti meraup suara,” tambahnya.
Identitas yang kabur membuat relawan lebih leluasa bergerak, sehingga paslon berlomba membentuk dan merekrut mereka. Fenomena relawan yang berpindah dukungan juga kerap terjadi, karena citra relawan lebih diterima masyarakat ketimbang partai politik. “Aksesibilitas relawan memang lebih tinggi di mata publik,” ujar Lutfi.
Contoh nyata perebutan relawan ini terlihat pada 14 Oktober 2024 lalu, ketika kelompok relawan Pro Rudy Mas’ud-Seno Aji (Pro Harus) mengalihkan dukungan ke Isran Noor-Hadi Mulyadi. Mereka merasa kurang diapresiasi, sehingga membentuk Rumah Juang 01 Kawal Isran-Hadi.
Sebelumnya, pada September 2024, peristiwa serupa terjadi di kubu Isran Noor-Hadi. Relawan Barisan Kemenangan Dua Periode (Barikade) memutuskan mendukung Rudy Mas’ud-Seno Aji, karena pasangan ini dianggap lebih mewakili kaum muda. Meski nama Barikade dipertahankan, singkatannya berubah menjadi Barisan Kemenangan Demokrasi. (bct)

