WartaJuara.com – Selama masa kampanye di Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kaltim, banyak sekali bertebaran hasil lembaga survei. Hasilnya pun beragam, dan justru menimbulkan sedikit pertanyaan di tengah masyarakat. Pasalnya sejauh ini belum ada satupun lembaga survei yang mendaftar ke KPU Kaltim.
Teranyar, ada Prisma Insight Center (PIC) dan Panel Survei Indonesia (PSI) yang melakukan survei dengan keunggulan elektabilitas masing-masing kandidat. Hal ini tentu menjadi pertanyaan besar di tengah masyarakat, terkait mana hasil jajak pendapat yang bisa dipercaya. Apalagi dalam konstelasi politik pilkada, hasil survei kerap memengaruhi hasil pemilihan akibat penggiringan opini yang tercipta.
Dari hasil survei terbaru untuk Pilkada Gubernur Kaltim, Direktur Eksekutif PIC, Arif Maulana menuturkan, dalam Pilgub Kaltim kali ini ada beberapa kecenderungan pemilih untuk menentukan pilihannya. Mulai dari partisipasi pemilih, kondisi demokrasi dan kepercayaan terhadap lembaga negara, kepimpinan, perilaku digital, hingga isu strategis dan agenda ke depannya.
“Rivalitas dari dua kandidat yang ada menarik minat politik masyarakat. Hal ini memantik meningkatnya partisipasi masyarakat dan preferensi untuk memilih,” ucapnya Jumat, 24 September 2024 lalu.
Ia melanjutkan, survei yang dilakukan lembaganya ini memakai 1.200 responden yang dipastikan bakal menyoblos di Pilgub Kaltim nanti. Sampel yang diambil pun tersebar di 10 kabupaten/kota. Contoh sampling yang digunakan memiliki batas eror berkisar 2,84 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen. Pengambilan sampelnya dilakukan secara acak berjenjang.
Dari hasil survei yang mereka tempuh pasangan calon (paslon) Isran-Hadi unggul dengan persentase pilihan sebesar 63,2 persen. Sementara pesaingnya, Rudy-Seno memiliki persentase keterpilihan sebesar 36,3 persen saja. “Sementara ada 10,5 persen responden yang belum menentukan sikap,” urainya.
Sementara partisipasi masyarakat pada Pilgub 2024 diprediksi bakal terdongkrak dibanding 2018 silam. Dari survei PIC, parmas di 2024 ini berada dikisaran 70 persen. Lebih tinggi sekitar 8 persen dari 2018 lalu.
Sementara pada hasil survei lainnya yang dilakukan lembaga PSI, Rudy-Seno yang unggul ketimbang paslon petahana Isran-Hadi. Dengan metode yang sama, multistage random sampling dan responden sebanyak 1.600 tersebar proporsional di 10 kabupaten/kota. Hal ini disampaikan Direktur Eksekutif PSI, Mahendra Zaini. Untuk persentase terpilihnya Rudy-Seno sebesar 51,6 persen, sementara Isran-Hadi hanya 30,1 persen saja.
“Persentase responden yang belum menentukan sikap sebesar 18,3 persen,” beber Mahendra.
Survei tatap muka yang ditempuh PSI juga mengulik popularitas para paslon. Kendati tingkat keterkenalan Isran-Hadi meraih 78,8 persen dan Rudy-Seno 74,3 persen namun tak sepenuhnya dianggap disukai masyarakat. Dari survei mereka, Rudy-Seno justru punya tingkat penerimaan mencapai 72,6 persen sementara Isran-Hadi hanya 63,7 persen. “Hal ini berangkat dari penilaian kepuasan publik atas kepemimpinan paslon petahana,” lanjutnya.
Untuk parmas pun survei PSI punya hasil serupa dengan survei dari PIC. Mereka memprediksi kehadiran masyarakat ke TPS meningkat ketimbang 2018 dengan persentase 70,1 persen.
Sementara itu Komisioner KPU Kaltim, Abdul Qayyim Rasyid mengatakan, sejauh ini belum ada satupun lembaga survei yang mendaftar. Padahal KPU sendiri telah membuka pendaftarannya mulai tanggal 27 Februari hingga 16 November mendatang. Sehingga ia tidak bisa memastikan jika hasil survei yang ada bisa dipertanggungjawabkan. “Pendaftarannya cukup panjang padahal, tapi sejauh ini belum ada satupun yang datang ke kami,” ujar Qayyim, sapaan akrabnya.
Ia melanjutkan, jika kondisi seperti ini terus berjalan, maka hasil survei yang ada hanya bersifat informatif saja. Lantaran KPU Kaltim tidak bisa memastikan apakah lembaga survei melakukan keberpihakan atau tidak. Sementara sebagai penyelenggara pihaknya harus bisa memastikan hasil survei tidak merugikan peserta pemilihan dan tidak mengganggu proses tahapan. “Karena lembaga survei juga harus bisa memberikan pendidikan politik kepada masyarakat. Makanya lebih baik hasil survei yang ada lebih baik hanya jadi informasi tambahan saja bagi masyarakat,” tukasnya. (bct)

