WartaJuara.com – Pasangan calon (paslon) yang maju dalam Pilkada Kaltim dianggap belum memiliki solusi konkret terhadap permasalahan tambang batu bara yang terus merusak lingkungan. Baik Isran Noor-Hadi Mulyadi maupun duet Rudy Mas’ud-Seno Aji belum menunjukkan jalan keluar atas dampak buruk tambang di Kaltim.
Dinamisator Jaringan Anti Tambang (Jatam) Kaltim, Mareta Sari, menyebutkan bahwa dalam visi-misi maupun program kerja yang dipaparkan kedua paslon, tidak ada pembahasan menyeluruh mengenai isu pertambangan dan kerusakan lingkungan. Padahal, sebagai calon pemimpin di Bumi Etam, mereka seharusnya memiliki solusi yang jelas. “Saya tidak yakin mereka akan menjawab isu ini karena merasa tidak punya kewenangan,” ujar Eta, sapaan akrab Mareta.
Menurut data Jatam Kaltim, tambang batu bara telah menghabiskan sekitar 5,2 juta hektar lahan di Kaltim, sering kali berada dekat dengan permukiman warga. Selain mengancam ruang hidup masyarakat, aktivitas tambang ini memicu berbagai dampak lingkungan, mulai dari penggusuran masyarakat adat, pencemaran sungai, hingga kerusakan hutan yang berujung pada banjir dan jalan umum rusak.
Maraknya tambang ilegal yang tumbuh subur bak jamur di musim hujan juga menjadi persoalan. Tambang-tambang ini sering mengabaikan aktivitas warga setempat. Eta juga menyoroti masalah lubang bekas tambang yang dibiarkan menganga tanpa reklamasi. Sejak 2011, tercatat 53 anak tewas tenggelam di lubang-lubang tambang tersebut. “Bagaimana dengan penegakan hukum terhadap tambang ilegal dan keadilan bagi korban? Paslon seharusnya memberi jawaban,” katanya.
Dengan beragam dampak buruk dari pertambangan, seharusnya para paslon memiliki sikap tegas. Pemulihan lingkungan, pengembalian hak masyarakat adat, serta pemulihan kawasan tambang terbengkalai adalah langkah yang harus diambil agar Kaltim tak terus-menerus menanggung beban dari aktivitas tambang yang tak bertanggung jawab. (bct)

